Daerah  

Bambang Sutrisno: Ajaran Samin Harus Menjadi Penerang bagi Generasi Penerus

imamjoss22
IMG 20260621

BOJONEGORO – Rangkaian kegiatan 1 Dekade Samin Festival 2026 terus berlangsung dengan berbagai agenda yang bertujuan memperkenalkan nilai-nilai ajaran Samin kepada masyarakat luas. Salah satu kegiatan yang digelar di Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026), menghadirkan akademisi, budayawan, dan pemerhati budaya untuk berbagi pandangan mengenai ajaran Samin dari berbagai sudut perspektif.

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan kehidupan dan nilai-nilai masyarakat Samin kepada khalayak yang lebih luas. Selain itu, masyarakat Samin juga berkesempatan menyampaikan pengalaman dan bukti nyata mengenai praktik nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan ajaran Samin kepada masyarakat luas. Kami juga ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang kami pegang masih relevan dan terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Bambang, antusiasme peserta dari kalangan akademisi, budayawan, maupun pemerhati budaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut menjadi bukti bahwa ajaran dan budaya Samin masih mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan.

“Kami sangat berterima kasih. Ini menjadi bukti bahwa sedulur kami itu banyak dan tidak ada batasan. Semua bisa belajar bersama untuk melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur,” katanya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengangkat tema “Sabare Di Eleng-Eleng, Trokale Di Lakoni”. Tema tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Bambang menjelaskan, pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di tengah berbagai pandangan maupun persepsi negatif yang masih muncul terhadap masyarakat Samin, mereka memilih untuk tetap menerima dengan lapang dada dan terus menunjukkan sikap positif melalui tindakan nyata.

“Kesabaran harus selalu diingat. Kita tidak boleh mudah terpancing emosi. Meski masih ada persepsi negatif, kita harus menerimanya dengan legawa. Yang terpenting adalah terus berusaha dan membuktikan melalui tindakan nyata bahwa nilai-nilai yang kami lestarikan membawa kebaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, semangat melestarikan budaya harus terus dijaga meskipun kegiatan yang dilaksanakan berlangsung secara sederhana. Baginya, keberlangsungan budaya jauh lebih penting dibanding kemewahan penyelenggaraan acara.

Ke depan, Bambang berharap ajaran Samin dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Harapan tersebut sejalan dengan filosofi Obor Sewu yang menjadi simbol penerangan bagi banyak orang.

“Obor berarti lampu atau penerang, sedangkan sewu berarti banyak. Harapan kami, pitutur atau ajaran Mbah Samin Surosentiko dapat menjadi penerang bagi generasi penerus dan masyarakat luas dalam menjalani kehidupan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Margomulyo, Nuryanto, menegaskan bahwa Dusun Jepang merupakan bagian dari Desa Margomulyo yang selama ini dikenal sebagai pusat berkembangnya budaya Samin di Bojonegoro.

Ia mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Samin Festival yang setiap tahun selalu mengangkat tema berbeda dengan pesan moral yang kuat bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, setiap pelaksanaan festival selalu mengangkat tema yang berbeda. Beberapa tahun lalu pesannya adalah hidup harus mengalir apa adanya, opo eneke dilakoni. Nilai-nilai seperti inilah yang terus diajarkan kepada masyarakat sebagai pedoman hidup yang sederhana namun penuh makna,” pungkasnya.(Hf)