Daerah  

Tradisi Gumbregan Sedulur Sikep Margomulyo, Wujud Syukur dan Penghormatan kepada Hewan Ternak

imamjoss22
IMG 20260619 WA0395 copy 931x524

BOJONEGORO – Masyarakat Sedulur Sikep di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, kembali melaksanakan tradisi Gumbregan dalam rangka menyambut bulan Suro pada penanggalan Jawa, Jumat (19/6/2026). Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, kesejahteraan, serta kebermanfaatan hewan ternak dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Sedulur Sikep, Gumbregan tidak sekadar menjadi ritual adat tahunan, tetapi juga mengandung pesan moral tentang pentingnya menghormati dan menyayangi seluruh makhluk hidup. Hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing dipandang sebagai bagian penting yang turut membantu aktivitas pertanian dan menopang kehidupan masyarakat.

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, mengatakan bahwa tradisi Gumbregan merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan, sekaligus penghormatan kepada hewan-hewan yang selama ini telah membantu manusia.

“Gumbregan adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena hewan ternak telah banyak membantu pekerjaan sehari-hari. Melalui tradisi ini kami juga mengajarkan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup yang ikut menopang kehidupan manusia,” ujarnya.

Menurut Bambang, pelaksanaan Gumbregan tahun ini juga memiliki makna penting dalam upaya pelestarian budaya lokal. Tradisi tersebut saat ini tengah didorong untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan gotong royong warga menyiapkan berbagai hidangan tradisional, terutama ketupat dan jadah ketan yang menjadi sajian khas dalam tradisi Gumbregan. Setelah seluruh persiapan selesai, masyarakat berkumpul untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh setempat.

Suasana penuh kebersamaan tampak saat warga menikmati hidangan yang telah didoakan bersama keluarga dan kerabat. Makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga. Sebagian hidangan juga diberikan kepada hewan ternak sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka dalam membantu kehidupan masyarakat.

Tradisi Gumbregan tahun ini juga menarik perhatian sejumlah pemerhati budaya dan pegiat pelestarian tradisi dari berbagai daerah. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa nilai-nilai yang diwariskan masyarakat Sedulur Sikep masih relevan dan mendapat perhatian luas di tengah perkembangan zaman.

Melalui pelaksanaan Gumbregan, masyarakat Sedulur Sikep terus menjaga dan merawat ajaran luhur warisan leluhur yang menekankan pentingnya gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, serta hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan hewan. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal tetap memiliki peran penting sebagai pedoman hidup yang selaras dengan lingkungan dan sesama makhluk hidup.(Hf)