Daerah  

Petani Tembakau Bojonegoro Didorong Terapkan Budidaya Modern dan Ramah Lingkungan

imamjoss22
IMG 20260610 122938 copy 982x847

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian, khususnya bagi petani tembakau. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) Tembakau, yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta perubahan pola pikir petani dalam menerapkan budidaya tembakau yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.

Program ini dilaksanakan di sejumlah wilayah sentra produksi tembakau di Kabupaten Bojonegoro. Pada Selasa (9/6/2026), kegiatan Sekolah Lapang digelar di Desa Banjarejo, Kecamatan Sumberrejo, dan Desa Pandantoyo, Kecamatan Temayang. Sementara pada Rabu (10/6/2026), kegiatan berlanjut di Desa Bungur, Kecamatan Kanor, serta Desa Dayukidul, Kecamatan Kedungadem.

Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan bahwa Sekolah Lapang Tembakau merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kompetensi petani dalam menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya pertanian yang baik dan berkelanjutan.

Menurutnya, penerapan GAP tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta menekan biaya produksi yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama dalam usaha tani tembakau.

“Melalui Sekolah Lapang ini, kami ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, sekaligus mendorong perubahan sikap dalam berbudidaya tembakau yang sesuai standar GAP dan ramah lingkungan. Dengan penerapan budidaya yang tepat, produktivitas dan kualitas tembakau dapat meningkat, sementara biaya produksi dapat ditekan,” ujar Zaenal Fanani.

Dalam kegiatan tersebut, para petani mendapatkan materi yang disusun secara komprehensif dan aplikatif. Materi meliputi teknik persemaian yang benar, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), hingga teknik panen dan penanganan pasca panen yang baik.

DKPP menilai bahwa keberhasilan budidaya tembakau tidak hanya ditentukan pada saat masa tanam, tetapi merupakan rangkaian proses yang saling berkaitan sejak tahap awal persemaian hingga hasil panen siap dipasarkan. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh terhadap setiap tahapan budidaya menjadi kunci dalam menghasilkan tembakau berkualitas tinggi yang memiliki daya saing di pasar.

“Keberhasilan usaha tani tembakau tidak hanya ditentukan saat tanam, tetapi juga sejak persemaian hingga pasca panen. Seluruh tahapan harus dipahami dan diterapkan dengan baik agar hasil yang diperoleh lebih optimal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” tambahnya.

Selain memberikan materi teori, Sekolah Lapang juga menjadi sarana pembelajaran langsung di lapangan. Melalui metode ini, petani dapat mengamati kondisi tanaman secara nyata, berdiskusi mengenai permasalahan yang dihadapi, serta memperoleh solusi teknis yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

DKPP berharap melalui kegiatan ini para petani mampu mengadopsi teknologi dan metode budidaya yang lebih modern, efisien, serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Dengan meningkatnya kemampuan petani, produktivitas dan kualitas tembakau Bojonegoro diharapkan semakin baik sehingga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat.

Program Sekolah Lapang Tembakau juga menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mendukung pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani agar lebih siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi pertanian, hingga dinamika pasar komoditas tembakau.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, Bojonegoro optimistis dapat terus mempertahankan bahkan meningkatkan posisinya sebagai salah satu daerah penghasil tembakau berkualitas di Jawa Timur, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani sebagai pelaku utama sektor pertanian.(Hf)