BOJONEGORO – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Dusun Tlawah dan Dusun Sumbadan, Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, tetap teguh menjaga tradisi warisan leluhur melalui pelaksanaan Sedekah Bumi atau Nyadran yang digelar setiap tahun. Tradisi yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) tersebut bukan sekadar ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi pengingat akan sejarah panjang berdirinya Dusun Tlawah yang diwariskan turun-temurun.
Sejak pagi hari, warga berkumpul di Punden Raden Ki Jengger, sebuah tempat yang diyakini sebagai lokasi peristirahatan tokoh pendiri dusun. Suasana khidmat menyelimuti jalannya doa bersama dan kenduri yang diikuti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga generasi muda.
Bagi warga setempat, Punden Raden Ki Jengger bukan sekadar tempat bersejarah. Di lokasi inilah tersimpan cerita tentang asal-usul Dusun Tlawah yang terus dijaga dan diceritakan dari generasi ke generasi.
Kepala Dusun Tlawah, Suyono, menuturkan bahwa menurut cerita para sesepuh, cikal bakal masyarakat Tlawah berasal dari pasangan Raden Ki Jengger dan Nyi Jengger Fatimah yang datang dari wilayah Sedayu, Gresik. Keduanya kemudian menetap di kawasan yang saat itu masih berupa hutan belantara di wilayah Desa Panjang.
“Raden Ki Jengger dan Nyi Jengger Fatimah membuka wilayah ini hingga berkembang menjadi permukiman. Setelah beliau wafat, makamnya berada di sebuah gumuk yang sekarang dikenal sebagai Punden Raden Ki Jengger. Keturunannya masih banyak yang tinggal di Dusun Tlawah hingga saat ini,” ujar Suyono.
Menurutnya, penghormatan kepada leluhur tidak hanya diwujudkan melalui doa bersama, tetapi juga lewat berbagai aturan adat yang masih dipatuhi dalam pelaksanaan Sedekah Bumi.
Salah satu tradisi yang tetap dijaga adalah penyembelihan kambing sebagai bagian dari ritual syukur. Menariknya, proses memasak hidangan tersebut harus dilakukan oleh laki-laki yang masih memiliki garis keturunan Raden Ki Jengger. Mereka juga tidak diperbolehkan mencicipi masakan yang sedang dimasak. Selain itu, kayu bakar yang digunakan harus diambil dari sekitar area punden.
“Aturan ini sudah diwariskan sejak dulu dan tetap kami laksanakan sampai sekarang. Ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud rasa syukur atas hasil panen yang diberikan Allah SWT,” jelasnya.
Tradisi yang terus bertahan selama puluhan tahun ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Panjang. Kepala Desa Panjang, Hari Hartono, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh warga yang masih menjaga nilai-nilai budaya dan gotong royong melalui kegiatan Sedekah Bumi.
Ia menilai tradisi tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan masyarakat sekaligus menjaga identitas budaya desa.
“Sedekah Bumi ini adalah warisan para leluhur yang harus terus kita lestarikan. Selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga kerukunan, serta menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat,” kata Hari Hartono.
Kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan Sedekah Bumi terlihat jelas dari antusiasme warga yang terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Tidak hanya para orang tua, generasi muda juga ikut ambil bagian sehingga nilai-nilai budaya dapat terus diwariskan.
Sebagai penutup, panitia menghadirkan hiburan kesenian tradisional Langen Tayub dari grup karawitan New Margo Laras asal Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. Alunan gamelan dan suara para waranggono, yakni Nyi Wariati, Nyi Violin, Nyi Septi, dan Nyi Khusnul, menambah kemeriahan acara yang berlangsung hingga malam hari.
Bagi masyarakat Dusun Tlawah dan Sumbadan, Sedekah Bumi bukan hanya tradisi tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menjaga jejak perjuangan leluhur, sekaligus memperkuat kebersamaan warga agar tetap guyub rukun dalam kehidupan sehari-hari.(Hf)






