Daerah  

Guru 55 Tahun di Bojonegoro Tempuh 25 Km Bersepeda dan Seberangi Bengawan Solo Demi Mengabdi

imamjoss22
IMG 20260504 081419 copy 1080x932

BOJONEGORO – Pagi belum sepenuhnya terang ketika Siti Muniroh mulai bersiap. Di usianya yang genap 55 tahun pada Mei ini, guru SDN Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro tersebut tetap setia mengayuh sepeda demi menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Perempuan yang akrab disapa Bu Muniroh, warga RT 02 RW 01 Dusun Tanggungan, Desa Plumpang, Kabupaten Tuban itu memilih jalan yang tak biasa. Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer menuju sekolah. Bukan menggunakan kendaraan bermotor, melainkan sepeda yang dikayuh dengan penuh tekad.

Perjalanan yang dilalui bukan tanpa risiko. Ia harus melintasi batas Kabupaten Tuban menuju Bojonegoro, bahkan menyeberangi derasnya aliran Bengawan Solo menggunakan perahu tambangan. Di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai.

Saat musim penghujan, tantangan menjadi berlipat. Jalanan licin, hujan yang turun di tengah perjalanan, hingga arus sungai yang semakin deras menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi. Bahkan, ia pernah mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawanya.

“Pernah jatuh ke Bengawan, posisi sepeda masih di atas perahu. Waktu itu rasanya takut sekali, seperti mau mati. Di dalam air, tangan saya sebisa mungkin mencari pegangan,” kenangnya, Senin (4/5/2026).

Namun pengalaman itu tak membuatnya menyerah. Justru sebaliknya, Bu Muniroh semakin teguh melanjutkan perjuangannya. Baginya, Bengawan Solo bukanlah penghalang, melainkan jembatan pengabdian menuju anak-anak didiknya.

Keputusan bersepeda bukan semata karena keterbatasan, melainkan pilihan sadar sebagai bentuk dukungan terhadap program efisiensi energi yang digaungkan pemerintah. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia ingin memberi contoh nyata bahwa penghematan bisa dimulai dari langkah sederhana.

“Bagi saya, bersepeda ke sekolah itu bukan beban. Selain sehat, ini cara saya sebagai ASN untuk ikut andil dalam penghematan energi. Soal menyeberang Bengawan, itu sudah jadi bumbu perjuangan setiap pagi demi anak didik di SDN Karangdayu,” ujarnya.

Dedikasi Bu Muniroh menjadi potret nyata pengabdian seorang guru. Di tengah usia yang tidak lagi muda, ia tetap produktif, disiplin, dan setia pada tanggung jawabnya. Tidak ada keluhan, yang ada hanya keteguhan hati untuk terus hadir di ruang kelas, mendidik generasi penerus bangsa.

Di bulan kelahirannya ini, ia tak berharap hadiah istimewa. Baginya, kelancaran perjalanan setiap hari sudah lebih dari cukup.

Kisah Siti Muniroh mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam hal besar, tetapi justru tumbuh dari ketulusan menjalani rutinitas dengan penuh tanggung jawab. Dari kayuhan pedal yang sederhana, ia menorehkan inspirasi luar biasa tentang arti dedikasi, keberanian, dan cinta pada profesi.(Hf)