Ragam  

Mata Air Panas Banyu Kuning, Laboratorium Alam Geotermal di Bojonegoro

masbam990
GRYCVhhs0OMlHcrZ

BOJONEGORO – Mata Air Panas Banyu Kuning terletak di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Objek wisata ini menjadi laboratorium alam untuk mempelajari sistem panas bumi (geotermal), proses hidrotermal, serta interaksi antara air tanah dan batuan vulkanik. Keberadaan Banyu Kuning juga menjadi penanda adanya potensi sumber daya panas bumi di bawah permukaan.

Mata air ini memiliki air yang jernih, meskipun batu-batu di dasar aliran tampak berwarna kuning. Warna tersebut terbentuk akibat endapan oksida besi (Fe₂O₃) yang melapisi permukaan bebatuan di dasar sungai.

Untuk mencapai Banyu Kuning dari Kota Bojonegoro, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer. Rute perjalanan melewati kawasan hutan Temayang dengan jalan yang berkelok, kemudian dilanjutkan menyusuri jalan setapak menuju lokasi mata air. Kawasan ini masih sangat asri dan menawarkan panorama alam yang menarik sehingga cocok dijadikan tempat berswafoto.

Secara harfiah, “Banyu” dalam bahasa Jawa berarti “air”. Banyu Kuning berada di kompleks perbukitan vulkanik Gunung Pandan. Suhu air panas di lokasi ini berkisar antara 40°C hingga 60°C, sehingga cukup hangat untuk dimanfaatkan sebagai wisata pemandian air panas alami. Airnya juga mengandung belerang (sulfur) yang menjadi salah satu indikator aktivitas hidrotermal.

Dilansir dari situs Geopark Bojonegoro, secara geologis kawasan ini tersusun atas batuan andesit hasil aktivitas vulkanik Gunung Pandan purba. Andesit tersebut berwarna abu-abu, bertekstur hipokristalin, didominasi oleh fenokris hornblenda dan plagioklas yang tertanam dalam massa dasar gelas vulkanik. Batuan ini bersifat masif, namun memiliki rekahan-rekahan yang menjadi jalur sirkulasi air tanah. Litologi di lokasi didominasi oleh penggalan lava andesit dan breksi vulkanik dari kompleks Gunung Pandan yang berumur Pleistosen.

Mata Air Panas Banyu Kuning terbentuk ketika air tanah (akuifer) bersirkulasi hingga ke kedalaman dan bersentuhan dengan batuan andesit yang masih menyimpan sisa panas akibat aktivitas magmatisme di bawah permukaan. Air yang telah terpanaskan kemudian naik kembali ke permukaan melalui rekahan-rekahan batuan.

Selama proses tersebut, air panas melarutkan berbagai mineral, terutama oksida besi (Fe₂O₃) dari batuan yang dilaluinya. Saat air panas muncul ke permukaan, perubahan suhu dan tekanan menyebabkan oksida besi yang terlarut mengendap (presipitasi) pada permukaan batuan, membentuk lapisan berwarna kuning hingga kemerahan.

Di sekitar mata air juga terbentuk mineral sekunder berwarna merah yang mengindikasikan kandungan unsur besi (Fe) cukup tinggi dalam air. Mineral tersebut merupakan hasil pelarutan fluida kaya besi yang keluar bersama aliran air panas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *