BOJONEGORO – Sejumlah petani tembakau di Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengeluhkan anjloknya harga jual tembakau pada musim panen tahun ini. Penurunan harga dinilai semakin menekan petani karena tidak sebanding dengan besarnya biaya produksi yang harus dikeluarkan sejak awal tanam hingga masa panen.
Harga tembakau yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp42 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram, kini disebut turun hingga sekitar Rp35 ribu per kilogram di tingkat petani.
Penurunan tersebut membuat petani harus kembali menghitung keuntungan dari hasil panen mereka. Dengan biaya pengolahan lahan, pembelian pupuk dan obat-obatan, tenaga kerja, hingga proses panen dan pengeringan yang cukup besar, harga Rp35 ribu per kilogram dinilai belum memberikan keuntungan yang layak.
“Sekarang dijual hanya Rp35 ribu per kilogram. Jelas kita rugi besar, Mas,” ujar Suwono, salah satu petani di wilayah Kecamatan Kedungadem, kepada awak media, Sabtu (5/9/2026).
Keluhan mengenai harga tembakau tersebut juga ditemukan di sejumlah wilayah Kecamatan Kedungadem, di antaranya Desa Sidorejo, Sidomulyo, dan Jamberejo.
Berdasarkan pantauan di lapangan, persoalan harga menjadi salah satu pembahasan yang cukup sering diperbincangkan para petani. Sejumlah petani memanfaatkan waktu senggang dengan berkumpul di warung kopi. Di tempat tersebut, mereka tidak jarang membicarakan kondisi pertanian, termasuk perkembangan harga tembakau selama musim panen.
Sebagian petani mengaku masih bersyukur karena hasil panen mereka tetap terserap oleh pembeli dengan harga di atas Rp30 ribu per kilogram. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya membuat petani merasa tenang.
Pasalnya, harga yang diterima petani saat ini mengalami penurunan dibandingkan harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp42 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.
“Kalau masih di atas Rp40 ribu memang lumayan. Tapi kalau turun terus seperti ini, petani yang paling terasa dampaknya,” keluh seorang petani lainnya.
Bagi petani, persoalan harga bukan hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga menentukan apakah hasil panen mampu menutup seluruh biaya yang telah dikeluarkan selama masa budidaya.
Biaya tersebut meliputi pengolahan dan sewa lahan, bibit, pupuk, obat-obatan pertanian, kebutuhan tenaga kerja, perawatan tanaman, hingga biaya panen dan pengeringan. Ketika harga jual turun, margin keuntungan petani otomatis semakin tipis, bahkan berpotensi membuat sebagian petani mengalami kerugian.
Kondisi ini dikhawatirkan semakin memberikan tekanan terhadap perekonomian petani tembakau di wilayah Kedungadem. Terlebih, bagi sebagian masyarakat pedesaan, hasil panen tembakau menjadi salah satu sumber pendapatan yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menutup biaya produksi selama satu musim tanam.
Petani berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dapat segera memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Mereka meminta pemerintah mencari langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga tembakau di tingkat petani sehingga hasil panen tidak dihargai terlalu rendah.
Selain itu, petani berharap pemerintah dapat membuka komunikasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penyerapan tembakau, termasuk pembeli maupun perusahaan yang menjadi mitra penjualan hasil panen.
Menurut petani, komunikasi dan koordinasi antara pemerintah, petani, serta pihak pembeli penting dilakukan agar terdapat kepastian pasar dan harga yang lebih wajar.
Mereka tidak ingin kerja keras selama berbulan-bulan mengolah lahan hingga menghasilkan tembakau harus berakhir dengan keuntungan yang minim atau bahkan kerugian akibat harga jual yang terus menurun.
Bagi petani tembakau di Kedungadem, kepastian harga menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha pertanian. Jika harga dapat memberikan keuntungan yang layak, mereka berharap komoditas tembakau tetap menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Bojonegoro.(Hf)






