BOJONEGORO – Inovasi kuliner berbahan dasar ledre, camilan tradisional khas Kabupaten Bojonegoro, semakin berkembang. Kali ini, ledre diolah menjadi minuman Kopi Ledre yang memadukan aroma kopi dengan cita rasa gurih dan manis khas pisang. Inovasi tersebut menarik perhatian Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, saat Festival Ledre pertama digelar di Kabupaten Bojonegoro, Kamis (8/10/2026) malam.
Kehadiran Kopi Ledre mendapat sambutan positif dari Nurul Azizah. Ia menilai minuman tersebut memiliki cita rasa khas dan berpotensi menjadi identitas kuliner baru yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk para tamu dari luar daerah yang berkunjung ke lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
“Rasanya enak. Nanti kopi ledre ini, ketika ada tamu-tamu di Pemkab, kita jadikan suguhan khas Bojonegoro. Biar jadi tren Bojonegoro, minuman selamat datangnya adalah kopi ledre,” ujar Nurul Azizah.
Dukungan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk berbasis potensi lokal. Selain memperkenalkan cita rasa khas daerah, inovasi Kopi Ledre juga diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi ledre sebagai salah satu produk unggulan Bojonegoro.
Sebagai tindak lanjut, pelaku UMKM yang memproduksi Kopi Ledre didorong untuk mengurus perizinan usaha dan produk sesuai ketentuan yang berlaku. Kajian bersama Dinas Kesehatan juga perlu dilakukan untuk mengetahui kandungan produk serta memastikan aspek keamanan dan kelayakannya sebelum dipasarkan secara lebih luas.
Langkah tersebut dinilai penting agar Kopi Ledre tidak hanya dikenal karena keunikannya, tetapi juga memiliki standar kualitas yang baik dan mampu bersaing di pasar minuman kekinian.
Apresiasi terhadap inovasi ini juga disampaikan Camat Purwosari, Ike Widyaningrum. Menurutnya, Kopi Ledre merupakan bagian dari perkembangan dan evolusi ledre sebagai kuliner tradisional yang terus beradaptasi mengikuti selera masyarakat.
“Kopi ledre ini bagian dari inovasi dan evolusi ledre, sehingga semua kalangan bisa merasakannya,” katanya.
Ledre selama ini menjadi salah satu produk andalan Kecamatan Purwosari. Bahkan, sejak 2005, ledre telah diperkenalkan sebagai produk unggulan dalam ajang lomba tingkat Provinsi Jawa Timur. Seiring perkembangan zaman, para perajin terus melakukan pembaruan, baik dari sisi kemasan maupun varian produk, agar ledre semakin diminati oleh berbagai kalangan.
Kini, pengembangan ledre tidak lagi terbatas pada bentuk camilan tradisional. Kreativitas pelaku usaha menghadirkan berbagai olahan baru, termasuk minuman berbahan ekstrak ledre yang menawarkan pengalaman rasa berbeda tanpa meninggalkan karakter asli produk tersebut.
Dalam Festival Ledre, peracik Kopi Ledre Bojonegoro, Anang Ma’ruf, memperkenalkan ekstrak ledre yang menjadi bahan utama racikannya. Ekstrak tersebut memiliki warna kuning keemasan dan digunakan untuk menghadirkan karakter rasa ledre ke dalam berbagai jenis minuman.
Anang menjelaskan, resep Kopi Ledre yang dikembangkannya telah terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Namun, nama Kopi Ledre Bojonegoro sengaja tidak didaftarkan agar tetap dapat digunakan oleh para pencinta kopi maupun peracik minuman lainnya yang ingin ikut memopulerkan inovasi tersebut.
Menurutnya, langkah itu menjadi bentuk keterbukaan untuk mendorong kolaborasi antarpelaku usaha. Dengan semakin banyak pihak yang mengembangkan Kopi Ledre, produk tersebut diharapkan semakin dikenal dan menjadi kebanggaan bersama masyarakat Bojonegoro.
Bahan ekstrak ledre diolah dari pisang dan bahan-bahan lain yang menjadi bagian dari karakter rasa ledre. Perpaduan tersebut kemudian dikombinasikan dengan kopi untuk menghasilkan minuman dengan cita rasa khas yang berbeda dari kopi pada umumnya.
Salah satu varian yang diperkenalkan adalah Kopi Susu Ledre. Perpaduan kopi arabika dan robusta dengan cita rasa pisang khas ledre menghadirkan sensasi legit yang unik. Minuman ini semakin menarik ketika dinikmati bersama ledre hangat yang disajikan langsung oleh para perajin.
Suasana Festival Ledre pun semakin semarak dengan demonstrasi pembuatan ledre oleh 49 perajin. Para pengunjung tidak hanya dapat menikmati hasil olahan, tetapi juga menyaksikan secara langsung proses pembuatan camilan tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner Bojonegoro.
Selain Kopi Susu Ledre, Anang Ma’ruf juga mengembangkan kreasi minuman lain berbahan ekstrak ledre, di antaranya Coklat Ledre dan Matcha Ledre. Beragam varian tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki peluang untuk berkembang melalui kreativitas, inovasi, serta penyesuaian dengan tren konsumsi masyarakat.
Di balik inovasi tersebut, ledre menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Bojonegoro. Camilan tradisional ini disebut mulai dirintis oleh Mak Min Tjie pada 1943, ketika masa penjajahan Jepang, sebagai salah satu upaya menghadapi kesulitan pangan saat itu.
Seiring perjalanan waktu, ledre berkembang menjadi produk kuliner khas yang dikenal luas dan menjadi salah satu identitas Kabupaten Bojonegoro. Warisan tersebut kini terus dijaga oleh para perajin melalui proses produksi tradisional sekaligus pengembangan produk yang lebih modern.
Festival Ledre menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner daerah sekaligus membuka ruang bagi inovasi produk berbasis potensi lokal. Kehadiran Kopi Ledre diharapkan dapat memperluas pasar ledre, meningkatkan daya tarik wisata kuliner, serta memberikan nilai tambah bagi pelaku UMKM dan perajin.
Dengan dukungan pemerintah daerah, kreativitas pelaku usaha, dan keterlibatan masyarakat, ledre diharapkan tidak hanya bertahan sebagai camilan tradisional, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Kopi Ledre menjadi salah satu contoh bagaimana warisan kuliner Bojonegoro dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan ciri khas dan nilai sejarahnya.(Kominfo)












