Budaya  

Festival Sandur 2026, H. Sutikno Apresiasi Upaya Pemkab Bojonegoro Lestarikan Kearifan Lokal

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mendorong pelestarian kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya daerah. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Festival Sandur 2026 yang digelar di kawasan Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (24/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349.

Festival ini menghadirkan beragam kegiatan seni, edukasi, dan kreativitas pelajar untuk mengenalkan kesenian Sandur kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan ikut melestarikan warisan budaya khas Bojonegoro di tengah perkembangan zaman.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, H. Sutikno, S.Pd.I., M.A.P., mengapresiasi penyelenggaraan Festival Sandur sebagai langkah untuk menjaga keberlangsungan kesenian tradisional. Menurutnya, pengenalan budaya daerah perlu terus dilakukan agar masyarakat, terutama generasi muda, mengetahui dan memahami kesenian yang menjadi bagian dari sejarah serta identitas Bojonegoro.

Ia menilai, masih banyak masyarakat yang belum mengenal secara mendalam kesenian Sandur. Karena itu, festival menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kesenian tersebut melalui pertunjukan dan berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar.

“Melalui Festival Sandur ini, harapannya masyarakat Bojonegoro semakin mengenal apa itu kesenian Sandur. Sebab, kesenian tradisional khas Bojonegoro ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga dan lestarikan bersama,” ujar H. Sutikno.

Ia menegaskan, pelestarian kesenian Sandur harus tetap berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. Perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan budaya daerahnya sendiri.

“Yang terpenting, kesenian Sandur jangan sampai meninggalkan kearifan lokal. Kita harus menjaga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Menurut H. Sutikno, upaya pelestarian budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika peringatan hari jadi daerah. Dengan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku seni, dan masyarakat, kesenian Sandur diharapkan terus berkembang serta menjadi kebanggaan masyarakat Bojonegoro.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, mengatakan Festival Sandur bertujuan untuk merawat tradisi sekaligus mempertahankan identitas Kabupaten Bojonegoro. Menurutnya, kekayaan budaya daerah harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman dan tetap dikenal oleh generasi penerus.

Dalam sambutannya, Setyo Wahono menekankan bahwa pelestarian tradisi harus berjalan beriringan dengan upaya membangun generasi muda yang kreatif, adaptif, dan memiliki daya saing. Melalui kegiatan kebudayaan, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal akar budayanya, tetapi juga mampu menghadapi perubahan serta perkembangan zaman.

“Harapannya membangun generasi yang punya daya saing dan bertransformasi. Di momen Hari Jadi ke-349, Kabupaten Bojonegoro tetap adem, lebih baik dan membanggakan,” ucap Wahono saat memberikan sambutan.

Menurutnya, peringatan hari jadi daerah menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong kemajuan masyarakat. Pelestarian budaya bukan sekadar menjaga kesenian agar tetap tampil, tetapi juga menanamkan rasa memiliki terhadap identitas daerah kepada generasi muda.

Melalui Festival Sandur, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berupaya mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan kreativitas generasi penerus. Dengan demikian, kesenian lokal diharapkan tetap lestari sekaligus memiliki ruang untuk berkembang mengikuti dinamika masyarakat.

Dalam pelaksanaan Festival Sandur 2026, berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memadukan pelestarian tradisi dengan pengembangan kreativitas generasi muda. Rangkaian acara diawali dengan lomba mewarnai bertema Sandur yang diikuti 70 anak dari tingkat taman kanak-kanak (TK) dan raudhatul athfal (RA).

Para peserta terlihat antusias menuangkan imajinasi melalui beragam warna pada gambar yang telah disiapkan panitia. Kegiatan ini menjadi sarana pengenalan budaya daerah sejak usia dini dengan pendekatan yang menyenangkan, sekaligus mengembangkan kreativitas anak.

Melalui lomba tersebut, anak-anak diharapkan mulai mengenal kesenian Sandur dan menumbuhkan ketertarikan terhadap tradisi lokal. Pengenalan sejak dini menjadi bagian penting dalam menjaga agar warisan budaya daerah tetap dekat dengan kehidupan generasi penerus.

Kemeriahan festival juga terlihat dalam pameran hasil cipta karya siswa yang menampilkan berbagai produk inovatif dan kerajinan tangan buatan pelajar. Pameran ini melibatkan siswa dari jenjang sekolah dasar (SD), SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bojonegoro.

Beragam karya yang dipamerkan menunjukkan kreativitas, keterampilan, dan potensi para pelajar dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai seni maupun manfaat. Stan-stan pameran turut menarik perhatian pengunjung yang ingin melihat secara langsung hasil karya generasi muda Bojonegoro.

Selain menjadi ajang apresiasi, pameran tersebut memberikan ruang bagi pelajar untuk memperkenalkan hasil kreativitas mereka kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan inovasi dan kemampuan generasi muda.

Sementara itu, lomba Tembang Sandur tingkat SMP/MTs menjadi salah satu agenda utama dalam festival tersebut. Sejumlah grup peserta dari sekolah-sekolah di Kabupaten Bojonegoro tampil membawakan tembang khas Sandur dengan balutan busana tradisional dan iringan musik gamelan.

Penampilan para peserta menghadirkan suasana khas kesenian tradisional di tengah kawasan Alun-Alun Bojonegoro. Setiap kelompok berusaha menunjukkan kemampuan terbaik melalui penguasaan tembang, kekompakan, serta penghayatan terhadap seni yang dibawakan.

Pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi pelajar untuk mengenal sekaligus mempraktikkan kesenian tradisional secara langsung. Antusiasme peserta dan pengunjung menunjukkan bahwa kesenian Sandur dapat terus diperkenalkan melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Keterlibatan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan menjadi bagian penting dalam upaya regenerasi pelaku seni dan pengenalan budaya kepada generasi penerus. Melalui lomba, pameran, dan pertunjukan, para pelajar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi daerah.

Festival Sandur 2026 dalam rangka HJB ke-349 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan lokal. Sejalan dengan harapan Bupati Setyo Wahono dan apresiasi H. Sutikno, pelestarian Sandur membutuhkan keterlibatan bersama agar nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga.

Dengan mengenalkan Sandur kepada generasi muda dan memperluas pemahaman masyarakat tentang kesenian tersebut, Bojonegoro diharapkan mampu merawat warisan leluhur sekaligus membangun generasi yang berdaya saing, adaptif, dan tetap berpegang pada identitas budayanya.

Penulis: Hadi FatekunEditor: Imam Mahfud