BOJONEGORO – Festival Belimbing Ngringinrejo ke-9 menjadi momentum penting bagi Kabupaten Bojonegoro untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya, dan pertanian sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa festival daerah tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Setyo Wahono saat menghadiri pembukaan Festival Belimbing Ngringinrejo di kawasan Agrowisata Kebun Belimbing, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Sabtu (7/11/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 ini turut dihadiri Wakil Bupati Nurul Azizah, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan, Festival Belimbing Ngringinrejo tampil lebih istimewa. Tahun ini, kegiatan tersebut dikolaborasikan dengan Festival Geopark Bojonegoro 2026 yang mengangkat tema Syukuran Hasil Panen dan Festival Belimbing.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (7–8 November 2026). Beragam pertunjukan seni, tradisi masyarakat, serta pameran produk unggulan UMKM disiapkan untuk menyemarakkan festival.
Suasana penyambutan Bupati dan Wakil Bupati berlangsung meriah. Barisan pelajar sekolah dasar dan SMP Negeri 2 Kalitidu turut memberikan sambutan, disusul penampilan seni lesung oleh ibu-ibu setempat.
Menariknya, Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah juga ikut mencoba memainkan alat musik tradisional tersebut. Momen ini menjadi gambaran bahwa festival tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Belimbing tahun ini memiliki makna tersendiri.
Selain menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen masyarakat, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan dan promosi Geopark Bojonegoro setelah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark.
Desa Ngringinrejo menjadi salah satu kawasan yang memiliki peran penting dalam pengembangan potensi geopark sekaligus destinasi wisata berbasis pertanian.
Menurutnya, Festival Geopark Bojonegoro 2026 dirancang untuk memperkuat promosi pariwisata, melestarikan seni dan budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Agrowisata Belimbing Ngringinrejo menjadi salah satu daya tarik unggulan yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan berkunjung ke Bojonegoro.
Tidak hanya menawarkan pengalaman memetik buah langsung dari kebun, kawasan tersebut juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui produk kuliner, olahan pangan, dan berbagai kreativitas masyarakat.
Elzadeba menjelaskan, festival ini memiliki sejumlah tujuan, mulai dari memperkenalkan potensi wisata desa, melestarikan tradisi rujakan dan grebeg belimbing, mengenalkan produk pertanian serta kuliner lokal, hingga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM.
Pameran produk unggulan UMKM yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan juga diharapkan dapat memperluas pasar produk lokal sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat dan wisatawan.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Ngringinrejo dalam mempertahankan Festival Belimbing hingga memasuki penyelenggaraan kesembilan.
Menurutnya, sebuah festival tidak bisa dibangun secara instan. Dibutuhkan proses panjang, keterlibatan masyarakat, serta komitmen bersama agar kegiatan tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat.
Ia menegaskan bahwa festival merupakan bentuk rasa syukur sekaligus sarana melestarikan budaya dan mempromosikan potensi daerah.
Namun, keberhasilan sebuah festival tidak cukup diukur dari kemeriahan acara maupun banyaknya pengunjung. Hal terpenting adalah manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Festival ini bukan hanya acara seremonial, tapi hasilnya harus jelas. Apa dampak dan hasil yang didapat untuk masyarakat. Ini bukan pekerjaannya Dinas Pariwisata saja, tapi pekerjaan kita semua,” tegas Setyo Wahono.
Bupati juga menyoroti keterlibatan pelaku UMKM dalam kegiatan tersebut. Ia menilai jumlah UMKM yang hadir masih perlu ditingkatkan agar festival benar-benar menjadi ruang promosi dan pemasaran produk masyarakat.
Menurutnya, seluruh pihak harus terlibat dalam mengangkat potensi lokal, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Pemerintah daerah, lanjutnya, memiliki tanggung jawab untuk membantu mempromosikan, mendampingi, membangun branding, serta meningkatkan kualitas produk lokal agar mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Salah satu pesan penting yang disampaikan Bupati adalah perlunya inovasi dalam mengembangkan potensi belimbing Ngringinrejo.
Ia berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan wisata petik belimbing sebagai daya tarik utama. Buah belimbing juga perlu dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.
Mulai dari minuman, makanan, hingga aneka produk kreatif berbahan dasar belimbing harus terus didorong agar mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Dengan demikian, hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi melalui kreativitas dan inovasi pelaku UMKM.
“Produk apa yang kita punya, keunggulan apa yang kita punya harus kita dorong. Kita lakukan inovasi seperti olahan belimbing. Tidak hanya sebuah agrowisata petik belimbing, tapi juga belimbing harus mampu dibuat minuman, dibuat makanan ataupun produk yang lain yang mampu membawa dampak bagi UMKM. Ini butuh kerja sama semua pihak,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi daerah.
Puncak kemeriahan festival ditandai dengan tradisi grebeg belimbing yang menjadi salah satu daya tarik utama masyarakat.
Panitia menyiapkan tiga gunungan untuk memeriahkan prosesi tersebut. Dua gunungan diarak bersama rombongan tamu kehormatan, masing-masing berisi buah belimbing dan aneka sayuran.
Sementara itu, satu gunungan berukuran raksasa dipenuhi buah belimbing segar yang tersusun menarik.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Bahkan, sebelum rangkaian doa selesai dibacakan, warga sudah berbondong-bondong mendekati gunungan yang berada di lapangan.
Tradisi tersebut bukan sekadar perebutan hasil bumi, melainkan memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan hasil panen yang diberikan Allah SWT.
Melalui doa bersama dan tradisi grebeg, masyarakat berharap keberkahan senantiasa menyertai para petani belimbing serta seluruh warga Desa Ngringinrejo.
Festival Belimbing Ngringinrejo ke-9 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk memperkuat identitas wisata Bojonegoro, memperluas promosi Geopark, mengembangkan produk UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi yang dimiliki daerah sendiri.(Prokopim)












