BOJONEGORO – Suara gamelan dan atraksi Reog Ponorogo mengawali kemeriahan Megale Carnival di Desa Megale, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (27/8/2026). Kesenian tradisional tersebut menjadi pembuka pawai budaya dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Sebanyak 43 grup ambil bagian dalam pawai budaya yang digelar Pemerintah Desa Megale tersebut. Terdiri atas 41 grup perwakilan RT, satu grup Linmas, serta satu grup pembuka Kesenian Reog Ponorogo Abunawas Saputro dari Desa Megale yang dipimpin Suraji.
Kehadiran Reog Ponorogo menjadi salah satu magnet utama. Penampilan kesenian khas Jawa Timur itu membuka jalannya pawai sekaligus menyedot perhatian masyarakat yang menyaksikan di sepanjang rute.
Dengan iringan musik tradisional dan atraksi khas Reog, rombongan pembuka tampil membawa nuansa budaya yang kuat sebelum puluhan kelompok warga bergerak mengikuti pawai. Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa semarak peringatan kemerdekaan di Megale tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengangkat dan melestarikan kesenian tradisional.
Pawai dimulai dari halaman kediaman Kepala Desa Megale dan berakhir di lapangan sepak bola Desa Megale. Setelah penampilan Reog, puluhan peserta dari masing-masing RT menampilkan berbagai kreativitas, mulai dari budaya, profesi, hingga pertunjukan hiburan.
Antusiasme warga terlihat sepanjang pelaksanaan pawai. Masyarakat tumpah ruah menyaksikan penampilan peserta yang dikemas secara kreatif dan beragam.
Kepala Desa Megale, Suraji, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, saya atas nama Pemerintah Desa Megale mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Megale yang tetap semangat berpartisipasi dalam kegiatan ini, meskipun pemerintah menerapkan efisiensi terhadap anggaran Dana Desa,” ungkapnya.
Menurut Suraji, Pemerintah Desa Megale juga memberikan dukungan kepada setiap RT yang mengikuti pawai budaya.
“Setiap RT mendapatkan support dana dari Pemerintah Desa sebesar Rp500 ribu untuk mengikuti kegiatan pawai budaya ini,” tambahnya.
Ia berharap Megale Carnival dapat terus digelar dan dikembangkan sehingga semakin meriah pada tahun-tahun mendatang.
“Harapan kami, semoga untuk kegiatan yang sama di tahun mendatang kita adakan yang lebih meriah lagi,” pungkasnya.
Megale Carnival menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat masyarakat dalam merayakan kemerdekaan. Dengan kekuatan gotong royong dan kreativitas warga, pawai budaya tetap berlangsung meriah.
Di sisi lain, tampilnya Reog Ponorogo sebagai pembuka memberikan warna tersendiri. Kesenian tradisional tersebut tidak hanya menjadi hiburan pembuka, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan seni budaya lokal di tengah kemeriahan perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Melalui Megale Carnival, semangat kemerdekaan sekaligus diwujudkan dalam bentuk pelestarian budaya, kebersamaan, dan partisipasi masyarakat.(Hadi)




