Pratikno: Guru Bukan Sekadar Pengajar, tapi Orang Tua bagi Siswa di Sekolah

BOJONEGORO — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara fisik, mental, dan karakter.

Pesan tersebut disampaikan Pratikno saat menghadiri peringatan HUT ke-61 SMP Negeri 1 Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (22/8/2026). Pratikno yang merupakan alumni SMPN 1 Padangan mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital.

“Anak-anak harus pintar, tetapi kita juga harus mencetak manusia yang kuat dan tangguh. Fisik penting, tetapi mental juga sangat penting,” tegas Pratikno.

Ia menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri yang menjadi perhatian serius, baik di Indonesia maupun dunia. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan jumlah kasus, tetapi juga semakin lebarnya rentang usia kelompok yang terdampak.

“Kasus yang kami tangani, bunuh diri, mengapa ini menjadi perhatian kita? Karena bukan hanya jumlahnya yang meningkat, tetapi rentang usianya juga semakin lebar,” ujarnya.

Menurut Pratikno, perkembangan dunia digital menjadi salah satu tantangan yang harus mendapat perhatian bersama. Anak-anak kini sangat mudah terpapar berbagai informasi dan gambaran kehidupan melalui media sosial yang belum tentu mereka temukan dalam kehidupan nyata.

Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Anak-anak bisa merasa harus mengikuti apa yang mereka lihat di media sosial, sementara kemampuan untuk menyaring dan memahami informasi belum tentu berkembang secara optimal.

Karena itu, Pratikno mendorong sekolah dan orang tua untuk bersama-sama mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital. Ia mengingatkan agar telepon seluler tidak dijadikan sebagai pengganti pengasuh anak.

“Jangan HP dijadikan pengganti pengasuh anak. Ketika anak tantrum atau rewel, jangan langsung disodori HP,” pesannya.

Pratikno juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan pelajar. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan secara bijak dan tetap berada dalam pendampingan.

“Anak-anak menggunakan AI, itu harus benar-benar hati-hati. Jangan sampai kemampuan analitiknya berkurang,” katanya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Pratikno menegaskan bahwa peran guru justru semakin penting. Guru tidak semata-mata bertugas menyampaikan materi pelajaran dan mengejar capaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter serta mendampingi perkembangan mental anak.

“Guru bukan hanya pengajar akademik. Guru adalah orang tua anak selama mereka berada di sekolah,” ungkap Pratikno.

Menurutnya, guru memiliki posisi strategis untuk melihat perkembangan anak secara lebih dekat, termasuk ketika terdapat perubahan sikap, perilaku maupun kondisi emosional siswa.

Karena itu, ia mengajak para guru untuk terus memberikan perhatian, pendampingan dan keteladanan kepada para siswa. Pendidikan harus mampu melahirkan anak-anak yang pintar sekaligus memiliki ketangguhan mental dan karakter yang kuat.

“Saya kira Bapak dan Ibu guru harus tetap semangat,” pesan Pratikno.

Pesan tersebut disampaikan dalam momentum yang cukup istimewa. Sebagai alumni SMP Negeri 1 Padangan, Pratikno kembali ke almamaternya dalam peringatan HUT ke-61 sekaligus melakukan peresmian dan peninjauan fasilitas sekolah.

Kehadirannya menjadi momentum bagi Pratikno untuk berbagi pengalaman sekaligus memberikan pesan kepada generasi penerus. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat mencetak anak yang pandai secara akademik, tetapi juga tempat membangun manusia yang sehat, tangguh, mampu bersosialisasi, memiliki mental kuat, serta siap menghadapi perubahan zaman.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, sinergi antara guru, orang tua dan lingkungan sekolah menjadi kunci agar anak-anak tetap tumbuh sebagai manusia yang utuh. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk mendukung perkembangan anak, bukan justru membuat mereka kehilangan kemampuan berpikir, bersosialisasi dan menghadapi persoalan secara mandiri.

Penulis: Imam MahfudEditor: Imam Mahfud