Tradisi Ketupat dan Filosofinya dalam Budaya Jawa, Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

imamjoss22
IMG 20260327 133251 copy 1080x584

BOJONEGORO – Tradisi ketupat atau kupatan yang berkembang di tengah masyarakat Jawa bukan sekadar budaya kuliner pasca Lebaran. Di balik bentuk dan cara penyajiannya, tersimpan makna filosofis mendalam yang berkaitan erat dengan ajaran Islam serta peran para wali dalam menyebarkan agama di Nusantara.

Sejarah mencatat, tradisi ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari metode dakwah yang mengakomodasi budaya lokal. Melalui pendekatan tersebut, ajaran Islam dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga juga memperkenalkan konsep dua kali “bakda” atau perayaan setelah Hari Raya Idul Fitri, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat sendiri biasanya dilaksanakan sekitar satu minggu setelah Lebaran, yang kini dikenal luas sebagai tradisi Lebaran Ketupat.

Secara filosofis, ketupat atau “kupat” memiliki makna simbolis yang dalam. Dalam budaya Jawa, kupat merupakan akronim dari “ngaku lepat” dan “laku papat”.

“Ngaku lepat” berarti mengakui kesalahan. Nilai ini tercermin dalam tradisi sungkeman yang dilakukan masyarakat Jawa saat Lebaran. Melalui sungkeman, seseorang diajarkan untuk rendah hati, menghormati orang tua, serta saling memohon maaf dengan tulus.

Sementara itu, “laku papat” mengandung empat tindakan utama yang menjadi pedoman setelah menjalani ibadah puasa, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.

Lebaran dimaknai sebagai tanda berakhirnya bulan puasa Ramadan. Luberan berarti melimpah, yang diwujudkan melalui anjuran berbagi rezeki kepada sesama, termasuk dalam bentuk zakat fitrah.

Leburan memiliki arti melebur, yakni harapan agar dosa dan kesalahan dapat terhapus melalui saling memaafkan. Sedangkan Laburan berasal dari kata “labur” yang berarti kapur atau pemutih, melambangkan upaya menjaga kesucian lahir dan batin.

Selain itu, ketupat juga memiliki filosofi dari segi bentuk dan bahan pembungkusnya. Janur atau daun kelapa muda yang digunakan untuk membungkus ketupat diyakini berasal dari istilah Arab “ja’a nur” yang berarti “telah datang cahaya”. Hal ini dimaknai sebagai simbol datangnya petunjuk atau hidayah dalam kehidupan manusia.

Bentuk ketupat yang segi empat diibaratkan sebagai hati manusia. Ketika seseorang telah mengakui kesalahan dan saling memaafkan, hati tersebut menjadi bersih, diibaratkan seperti isi ketupat yang berwarna putih.

Tak hanya ketupat, makanan pendamping seperti lepet juga memiliki makna filosofis. Lepet diartikan sebagai “silep kang rapet”, yakni menutup rapat kesalahan yang telah dimaafkan. Filosofi ini mengajarkan agar seseorang tidak mengungkit kembali kesalahan di masa lalu, sehingga hubungan persaudaraan tetap terjaga erat, sebagaimana lengketnya ketan dalam lepet.

Tradisi kupatan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk kearifan lokal yang sarat nilai spiritual. Peran para wali dalam mengemas ajaran Islam melalui budaya menjadi bukti bahwa dakwah dapat dilakukan dengan cara yang bijak dan membumi.

Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan untuk tidak hanya merayakan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga menjaga nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan saling memaafkan dalam kehidupan sehari-hari.(Hf)