BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kemurnian genetik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi ternak lokal, khususnya sapi Peranakan Ongole (PO). Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan menetapkan Kecamatan Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit sapi PO.
Penetapan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 356/Kpts/PK.040/6/2015. Dengan status ini, Bojonegoro semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu pusat pemurnian genetik sapi PO di Indonesia.
Sapi PO asal Bojonegoro, terutama dari Tambakrejo, dikenal memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya unggul di kalangan peternak. Di antaranya tingkat reproduksi yang tinggi dan stabil, kemampuan adaptasi yang baik terhadap iklim tropis, serta daya tahan tubuh yang kuat terhadap berbagai penyakit. Selain itu, sapi PO juga memiliki kualitas karkas yang baik dengan persentase daging tinggi, serta efisiensi pakan yang menjadikannya lebih ekonomis untuk dibudidayakan.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, menegaskan bahwa fokus pemerintah daerah saat ini tidak hanya pada peningkatan populasi ternak, tetapi juga pada kualitas genetik yang terstandarisasi.
“Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi memastikan kualitas genetik sapi PO tetap terjaga. Dengan status Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit, setiap sapi yang dihasilkan telah melalui proses seleksi ketat sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan dilengkapi Sertifikat Keterangan Layak Bibit (SKLB),” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkab Bojonegoro telah menggulirkan berbagai program unggulan. Di antaranya penerbitan SKLB bagi sapi PO, layanan inseminasi buatan (IB) dan gangguan reproduksi (gangrep), pemberian vaksin serta obat hewan, hingga penguatan kelembagaan melalui kelompok tani ternak dan Asosiasi Peternak Sapi PO Bojonegoro (Kepo Bojo).
Berbagai program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi sektor peternakan. Terdapat tiga tujuan utama yang ingin dicapai, yakni menjaga kelestarian sumber daya genetik sapi PO, menyediakan bibit unggul secara berkelanjutan, serta mendukung ketahanan pangan dan swasembada daging nasional.
Lebih lanjut, Elfia menyampaikan bahwa upaya ini juga merupakan bagian dari pelestarian plasma nutfah lokal yang memiliki nilai strategis. Dengan adanya pengakuan dan sertifikasi resmi, peternak di Bojonegoro diharapkan dapat memperoleh nilai jual yang lebih tinggi.
“Kolaborasi dengan kelompok tani ternak terus kami perkuat agar ekosistem peternakan tetap berkelanjutan. Dengan demikian, peternak tidak hanya menjaga warisan genetik, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar,” pungkasnya.
Melalui langkah ini, Bojonegoro tidak hanya menjaga kualitas sapi PO sebagai aset daerah, tetapi juga berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional berbasis potensi lokal.(Hf)






